Perlengkapan Anak

Bukan Kanker Darah, Ini Resiko Sebenarnya dari Kecanduan Gadget pada Anak

 ( Foto : Asian Parent )

 

Beberapa waktu lalu pesan berantai di sosial media dan whatsapp messanger dihebohkan dengan kabar ada seorang anak usia 3 tahun yang menderita leukemia diakibatkan oleh kebiasaannya mengkonsumsi gadget. Leukimia adalah penyakit kanker pada jaringan pembentuk darah, salah satunya adalah tulang sumsum. Dengan beredarnya berita tersebut maka meningkatlah kecemasan para orangtua. Padahal berita ini sudah terkonfirmasi sebagai berita hoax.

 

Sebaiknya kenali 5 faktor sebenarnya dari kanker darah seperti yang diterangkan di dalam artikel ini https://review.bukalapak.com/mom/hindari-leukimia-pada-anak-dengan-hidup-sehat-dan-ketahui-5-faktor-penyebabnya-40438

 

Diungkapkan oleh Herlina Uinarni, dr. Sp. Rad pada salah satu media online, bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel merupakan gelombang microwave yang termasuk dalam jenis radiasi non-ionisasi dan levelnya tergolong rendah. Penyakit kanker darah sendiri terjadi karena berbagai faktor seperti gen, usia, jenis kelamin, gaya hidup, riwayat kesehatan dan lain sebagainya. Sehingga dapat kecanduan gadget bukanlah penyebab dari penyakit kanker darah.

 

Meskipun demikian, ketergantungan anak pada gadget memang perlu dihindari karena tetap bisa menimbulkan beberapa resiko yang cukup mengganggu, diantaranya ;

1.     Dapat menyebabkan Obesitas

Anak yang memiliki ketergantungan mengkonsumsi gadget memiliki kecenderungan menderita obesitas. Hal ini disebabkan oleh minimnya aktivitas fisik dalam berkegiatan di luar rumah.

2.     Mencontoh Perilaku Kurang Baik

Dengan mengkonsumsi konten video dari gadget seorang anak dapat dengan mudah menirukan apa yang dilihatnya, sayangnya tidak hanya perilaku baik, perilaku yang kurang baikpun menjadi akan lebih mudah menempel dibenaknya dan lambat laun akan ditirukan.

3.     Sulit Konsentrasi dan Mudah Teralihkan

Ketergantungan pada gadget dapat mengakibatkan kesulitan konsentrasi baik pada saat bermain maupun belajar. Hal ini cukup menghawatirkan mengingat dapat memberikan efek negatif pada perkembangan anak.

 

Melihat risiko-risiko di atas, rasanya memang sangat penting untuk para orangtua membatasi penggunaan gadget pada anak. Untuk para orangtua yang bekerja, dan sudah terlanjur membiasakan anak mengkonsumsi gadget akan membutuhkan usaha lebih. Tidak hanya sekedar memerintahkan anak untuk melepas gadget dari tangannya, melainkan juga diperlukan komitmen untuk ikut mencontohkan dan terus berkegiatan serta berinteraksi dengannya. Memang sulit dan meletihkan, namun itu semua sangat bernilai untuk dilakukan. 

 

( Foto : Aha Now )

Organisasi kesehatan dunia (WHO) sudah menyadari ancaman ini. Atas dasar itulah organisasi ini menganjurkan agar pemakaian ponsel di kalangan anak-anak dibatasi. Gagasan ini disambut oleh brand terkemuka Apple yang menyediakan fitur yang dapat memperlihatkan berapa lama waktu yang dihabiskan seseorang dalam menggunakan gadget. Fitur ini membaginya dalam beberapa kategori waktu penggunaan, yaitu waktu penggunaan untuk social networking, untuk hiburan, untuk permainan, dan untuk lainnya.

 

Berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan para orang tua untuk melatih sang anak lepas dari gadget ;

1.     Sebelumnya orangtua harus berkomitmen untuk mengurangi penggunaan gadget ketika sedang bersama anak,

2.     Tetapkan agenda permainan dan aktivitas untuk anak setiap harinya. Dengan ini orang tua dan anak tidak akan kehabisan ide untuk menghabiskan waktu. Hal ini bisa menghindari para orangtua menyerah dan kembali memberikan gadget kepada anak,

3.     Manfaatkan teknologi “screen time” pada gadget anda sebagai peringatan penggunaan gadget,

4.     Manfaatkan fitur pembatasan waktu penggunaan sosial media sebagai tools untuk anda mengkontrol penggunaan gadget,

5.     Tetapkan target mingguan, lakukan review dan berikan penghargaan untuk anak dan untuk diri Anda sendiri atas kemajuan yang telah dicapai.

 

Keberadaan ponsel pintar memang sudah seharusnya tidak menyebabkan kemunduran pada pemakaiannya. Namun kesalahan dalam cara penggunaannya bisa berdampak sebaliknya. Maka jadilah pengguna ponsel pintar yang pintar. 

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *